<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356</id><updated>2011-09-09T20:14:57.929-07:00</updated><category term='Thread: Happy Birthday'/><category term='Thread: Nap'/><category term='[Main Plot] Reflection of the One'/><category term='Seleksi Asrama'/><category term='Thread: Yoru'/><category term='First Letter'/><category term='Thread: Super Girl'/><category term='Biodata Karakter'/><category term='Tahun Kedua'/><category term='Thread: Sleep? Rumble'/><category term='Thread: K A Z U'/><category term='1st Year Homeroom Class'/><category term='Tahun Pertama'/><title type='text'>yeah, that guy.</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356.post-6049839316362382891</id><published>2009-09-28T08:43:00.000-07:00</published><updated>2009-09-28T08:45:06.916-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thread: Super Girl'/><title type='text'>Super Girl #3</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;“Memang. Di dalam tidak ada siapa-siapa lagi. Tinggal aku seorang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jleb.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat Kazuki mengalihkan pandangannya dari senpai-nya dan menatap lantai berlapis kayu yang sedari tadi ia pijak. &lt;em&gt;Kebohongan tadi terbaca? Semoga saja tidak, kami. Kalau sampai ketahuan…&lt;/em&gt; dan sederet pemikiran negatif lain muncul di kepala Kazuki, beriringan dengan keringat dingin yang mulai menetes. Demi &lt;em&gt;kami&lt;/em&gt;, sejak kapan ia jadi (agak) gugup begini? Sejak kapan kebohongannya gagal? Dari dulu ia ahli berbohong. Kalau tidak, entah sudah berapa kali ia tertangkap oleh pemilik toko yang ia co—umm ia pinjam barangnya? Dan proses mendapatkan batangan tembakau itu... yang jauh dari mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Arigatou. Ya, kau benar. Hari ini, hari ulang tahunku.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau perkataan Kasumi sebelumnya tadi terdengar seperti panggilan neraka, yang ini seakan panggilan surga (bukan, bukan artinya ia mau mati sekarang juga). Dengan cepat kepalanya mendongak, pantulan matanya mencerah, dan perlahan pikiran-pikiran negatif itu menghilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah ini karena kata-kata Kasumi atau karena ia baru sadar dari sedari tadi CD playernya memutarkan salah satu lagu kesukaannya. Ngomong-ngomong, dari tadi Kazuki membiarkan CD playernya menyala dan mengencangkan volumenya sampai maksimal sehingga ia dapat mendengar lagu yang sedang dimainkan tanpa memindahkan posisi headphone-nya yang menggantung di leher. Menghabiskan batre? Mau bagaimana lagi, sudah kebiasaannya seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Pam pam paa--Azayaka na kaze ni sasowarete mo muchuu de kimi wo oikaketeiru yo.&lt;br /&gt;Sora wa ima ni mo ima ni mo furisosogu you na aosa de. Miageta boku wo tsutsunda! Pam pam—” &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenal lirik lagu itu? Masa kalian tidak tahu &lt;em&gt;L’arc ~ En ~ Ciel&lt;/em&gt;? Lagu yang barusan ia dengarkan (sekaligus nyanyikan tanpa sadar) itu memang lagu agak lama. Sekitar tiga atau empat tahun yang lalu mungkin. Tapi menurutnya lagu ini keren, ia suka perpaduan antara gitar dengan harmonika pada bridge-nya. Sayang ia tidak bisa bermain harmonika, tetapi untuk bagian gitarnya? Dengarkan sendiri ia memainkannya tadi sesudah bernyanyi, beriringan dengan ‘pam, pam, pam’ yang keluar senada dengan melodi gitarnya. Dan sekali lagi, ia melakukan hal tersebut tidak sadar. Lupa kalau ia memiliki lawan bicara dan ia benar-benar menghiraukan lawan bicaranya itu dengan menyanyi dan permainan gitar tiba-tibanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat Kazuki berhenti bernyanyi (begitu pula dengan anggukan dan permainan gitarnya), pandangannya jatuh tepat pada Kasumi yang tersenyum padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A-ah… senpai—” Suaranya mengkhianatinya. Lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kamu dapat melihat sedikit rona merah di wajahnya, mungkin tidak. Entah, Kazuki tidak merasakannya. Mungkin karena rasa malunya yang sudah lama pergi dan tiba-tiba datang kembali. Dengan cepat pemuda yang baru saja menggenapi lima belas tahun hidupnya bulan lalu itu menaruh gitarnya di sisi kaki kirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ayo Kazuki, bohong lagi. CEPAT.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Err—yang tadi itu… yang tadi—” Astaga, sekarang CD playernya memainkan track dengan beat yang lebih cepat, buru-buru Kazuki menggerakkan tangan kanannya untuk mematikan CD player yang menggantung di pinggangnya itu. “Umm… lagu itu… untukmu! M-maksudku—”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergagap. Rahangnya kaku. Suaranya menghilang tiba-tiba. Keringat dingin mulai menetes lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“KASUMI-BACHAN! OTANJYOUBI OMEDETTOU!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagus ada orang datang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Untuk sepersekian detik, mata Kazuki sempat mencerah, keringat dinginnya berhenti sementara, dan senyuman nyaris merekah. &lt;em&gt;Hanya sepersekian detik.&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…dan orang itu adalah keponakan Kasumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“—glek.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamisama, dia tidak dengar nyanyian Kazuki tadi, ‘kan?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3808784878141510356-6049839316362382891?l=gullible-guitarist.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/6049839316362382891/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/super-girl-3.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/6049839316362382891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/6049839316362382891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/super-girl-3.html' title='Super Girl #3'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356.post-3881385829999822589</id><published>2009-09-28T08:42:00.000-07:00</published><updated>2009-09-28T08:43:21.625-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thread: Super Girl'/><title type='text'>Super Girl #2</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Bosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kazuki akhirnya memutuskan untuk mengambil gitarnya yang sedari tadi hanya tergeletak berbaring di hadapannya. Mendekatkan kepalanya ke leher gitar tersebut, beberapa kali ia memutar kunci pada ujungnya sementara tangan kanannya bergerak untuk memetik senar-senar gitar tersebut pelan. Setelah rasanya pas, Kazuki lalu menggerakkan kedua tangannya hampir bersamaan; jemari kanannya menari di atas senar mengiringi lompatan-lompatan kecil yang dilakukan jemari kirinya di atas leher gitar. Nada yang dikeluarkan mungkin asing bagi telinga khalayak, lagu ini adalah lagu yang ia buat sendiri—ah, masih belum rampung tentunya. Masih jauh dari sempurna. Buktinya ia hanya dapat memainkannya sampai detik ini dan—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sreek.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kazuki Itou.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“A-ah... senpai.” Mulutnya terbuka begitu saja untuk melontarkan balasan tersebut, refleks katanya, tetapi saat ia menutupnya... ia tidak bisa. Mulutnya &lt;em&gt;ngotot&lt;/em&gt; untuk tetap terbuka begitu saja, membentuk huruf ‘o’ yang membuat wajah bodohnya terlihat makin bodoh. Oke, kalau begitu tanggung, kenapa tidak lanjutkan saja kata-katanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa. Suaranya menolak untuk keluar, mereka bersembunyi dan sepertinya dengan senang hati membiarkan pemiliknya terlihat bodoh di saat-saat penting, seperti saat ini contohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedang apa kau di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah? Aku?” Ditambah lagi dengan jarinya yang bergerak sendiri, telunjuknya mengacung untuk menunjuk wajahnya sendiri. “Aku err... mencari seseorang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak bohong, kawan. Lihat, hidungnya tidak bertambah mancung kan? Yah, benar kan? Ia memang mencari seseorang dan menunggu orang itu keluar dengan sabar dari tadi. Kalau tidak, buat apa ia menunggu di depan ruangan Dewan Sekolah begitu lama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapiii—” Kazuki melanjutkan lagi, kepalanya bergerak untuk melongok ke dalam, sayang pintu tersebut sudah tertutup rapat, “—sepertinya sudah tidak ada orang lagi ya di dalam? Berarti usahaku sia-sia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, yang ini baru bohong. Tapi lihat, hidungnya tidak bertambah mancung juga. Bagus, kalau begitu kebohongannya tidak ketahuan bukan? (Yah, ia sepertinya harus mengembalikan manga bertema dongeng Pinokio itu, lama-lama ia jadi terobsesi sendiri begini). Habis mau bagaimana? Terang-terangan mengatakan ‘Aku dari tadi menunggumu keluar’? Begitu? Lalu reputasinya yang sudah jelek di sekolah ini makin jelek... dan menjadi yang terburuk di mata Kasumi-senpai? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya ketidaktahu maluan Kazuki memiliki rasa malu juga, di hadapan orang-orang tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kaki pemuda berambut hitam legam itu bergerak, menegakkan tubuhnya dalam posisi berdiri. Gitarnya berada dalam cengkraman aman tangan kirinya. Untuk beberapa saat, posisi Kazuki tidak berubah, berdiri membeku dengan tangan kiri mencengkram lubang rongga gitarnya berhadapan dengan manusia yang sebenarnya menjadi alasan mengapa ia rela berdiri lama di koridor lantai tiga sampai-sampai dilempari berbagai pandangan aneh dari murid-murid (dan guru, kami-sama) yang lewat. Matanya menatap kedua mata hazel milik senpai-nya itu selama beberapa detik, tidak memperdulikan senyuman dingin yang diberikan perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ‘senpai’ sebenarnya tidak cocok juga dipakai untuknya. Perempuan itu umurnya sama dengan Kazuki, sebenarnya. Bahkan lebih muda. Buktinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Omedetou.” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Kazuki memecahkan keheningan sesak yang menggantung sekian lama. Buru-buru Kazuki tersadar, matanya mengalihkan pandang dan tangannya bergerak untuk menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. “Otanjoubi omedetou—err benar kan hari ini? Aku lihat di majalah sekolah.” Yang kelima belas kan? Selamat ya, sehat selalu... dan masih banyak lagi yang mau ia tambahkan, tetapi sekali lagi, rasa tidak tahu malu dan suaranya kembali mengkhianati pemiliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, Kazuki. Ganti bahan pembicaraan. “Tidak balik ke asrama?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Glek.&lt;/em&gt; Kami-sama, seandainya saja ia bisa menelan perkataannya kembali seperti ia menelan ludahnya barusan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3808784878141510356-3881385829999822589?l=gullible-guitarist.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/3881385829999822589/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/super-girl-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/3881385829999822589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/3881385829999822589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/super-girl-2.html' title='Super Girl #2'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356.post-1940318005619329541</id><published>2009-09-28T08:37:00.000-07:00</published><updated>2009-09-28T08:41:43.414-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thread: Super Girl'/><title type='text'>Super Girl #1</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ada dua pasang mata, cerah seperti obsidian kembar yang baru dipoles menaruh pandang pada sebuah pintu kayu yang tertutup. Pintu yang membatasi pemilik sepasang mata tersebut dengan ruangan milik Dewan Sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemiliknya bernama Kazuki Itou, seorang pemuda yang bulan lalu baru genap berusia lima belas tahun yang sedang menjalani tahun keduanya bersekolah di akademi bernama Ryokubita. Akademi sihir yang hanya diketahui segelintir orang, yang bahkan ia sendiri tidak tahu sebelumnya. Saat pertama ia mendapat surat yang mengundangnya untuk masuk sekolah ini, Kazuki tidak berpikir dua kali. Alasan bahwa bisa hidup jauh dari pengaruh kakaknya membuatnya langsung memilih untuk masuk ke sekolah ini, lagipula, sekolah mana lagi yang mau menerima murid yang ‘tidak terlalu pintar’ seperti dirinya? Beberapa kali ia meragukan keputusannya setelah menjalankan hari-harinya di akademi tersebut, tetapi beberapa alasan menutup lubang-lubang keraguan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya berada di balik pintu kertas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, ia tidak bermaksud untuk berada dalam posisinya sekarang--berdiri terpaku selama hampir lima belas menit di koridor lantai tiga, menghadap depan pintu dengan sebuah gitar ia angkat di tangan kiri dan matanya terus-terusan menatap ke arah pegangan untuk menggeser pintu tersebut—dan dicap orang aneh oleh anak-anak yang melewati lorong depan kantor Dewan Sekolah (Kazuki sudah cukup dicap aneh oleh beberapa orang... bahkan gurunya). Hari ini hari Jumat dan semua kegiatan sudah selesai beberapa saat yang lalu, begitu pula seharusnya dengan kegiatan yang berada di balik pintu ini. Kalau ingatannya masih baik (yang ia sendiri ragukan sebenarnya) sore ini ada rapat dewan sekolah. Bagaimana Kazuki bisa hafal padahal ia bukan anggota dewan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah... Kazuki kan ingin berubah, jadi anak yang lebih rajin dan lebih perhatian pada sekolahnya tercinta ini. Salah satunya adalah dengan memperhatikan bagaimana sistem sekolah ini bekerja, termasuk Dewan Sekolah, termasuk... anggotanya. Yeah, anggotanya. Kalau anggotanya tidak bekerja dengan baik maka kegiatan sekolah tidak berjalan dengan baik bukan? Kalau begitu bisa-bisa terjadi degradasi mutu sekolah! (Kazuki mencontek kata ini dari salah satu buku pelajarannya, kalau kalian bingung.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsk, terlalu ketahuan bohongnya ya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kanan Kazuki bergerak sendiri ke belakang kepalanya untuk menggaruk kulit kepala yang sebenarnya tidak gatal itu. Ia dapat mendengar beberapa orang yang lewat membisikan namanya dengan nada tidak menyenangkan. Ah... sial. Kenapa rapatnya tidak selesai-selesai sih? Hari ini benar ada rapat kan? Kalau jadwal yang ia dapat dari seseorang (maaf, oknum diminta tidak disebutkan namanya di sini karena telah menyediakan barang ilegal tanpa jaminan) tepat, berarti tanggal 1 Juli 1999 akan ada rapat Dewan Sekolah. Kazuki yakin ia ada di sana dan seharusnya keluar saat ini juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kazuki mendudukkan tubuhnya dan menyenderkan punggungnya pada tembok yang berhadapan dengan pintu tadi, matanya masih menatap ujung pintu tersebut dalam harapan pintu itu bergeser secepatnya. Kedua kakinya mulai terasa pegal sesudah kegiatan klub dan harus lama berdiri menunggu di depan pintu dan pikiran-pikiran akan kemungkinan-kemungkinan terburuk muali muncul di kepalanya, seperti: &lt;em&gt;bagaimana kalau ternyata sudah selesai dari tadi?&lt;/em&gt; Oh ya... hebat. Ia baru terpikir sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, ini kan ulang tahun&lt;em&gt;nya&lt;/em&gt;, bisa saja ia dan anak-anak Dewan Sekolah lain menyelesaikan rapat mereka jauh lebih cepat dan merayakan ulang tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(masukkan tepukan dahi imajiner di sini.)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3808784878141510356-1940318005619329541?l=gullible-guitarist.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/1940318005619329541/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/super-girl-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/1940318005619329541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/1940318005619329541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/super-girl-1.html' title='Super Girl #1'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356.post-4167700131788959657</id><published>2009-09-28T08:34:00.000-07:00</published><updated>2009-09-28T08:35:47.202-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thread: Happy Birthday'/><title type='text'>Happy Birthday #4</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ishizaki pun mengacak rambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kazuki hanya menunduk karena kepalanya terdorong cukup keras dan tertawa, biarkan saja... ah ya, kira-kira Ishi tahu tidak ya kalau ia sudah tidak keramas selama—hmm, coba ia ingat-ingat—nyaris sepuluh hari? Atau dua minggu? Entahlah. Tugas dan kegiatan sekolah makin hari makin sibuk saja dan waktu untuk mandi pun makin sedikit--atau itu karena ia terlalu banyak menggunakan waktunya untuk tidur sehingga waktu untuk mengerjakan tugasnya menjadi sedikit? Dan ia jadi tidak sempat mandi juga? Yang manapun alasannya, yang penting tidak ada yang menyadarinya bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;’Ckrek!’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-kedip-&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengerjapkan matanya beberapa kali, Kazuki baru sadar ada bunyi shutter dan kerlip Blitz yang terarah kepadanya. Kazuki menoleh ke arah sumber cahaya tersebut dan menemukan seorang juniornya yang mengambil foto dirinya dan Ishizaki. Oh, anak yang tadi, yang meminta kue untuk imbalan foto-foto bukan? Perempuan itu memberinya sebuah senyuman-seringai (ah, meniru dirinya?) sebelum memperkenalkan dirinya dengan nama Kanon Wakana—err, namanya sama dengan nama kameranya? Kreatif sekali orang tuanya kalau begitu, tidak seperti orang tuanya dulu saat memilih nama untuk dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah namamu...” Baru saja Kazuki mau memberi sedikit ‘pujian’ atas namanya itu, Wakana mendekat dan berbisik padanya, mengatakan padanya kalau ia boleh saja mengambil foto lebih banyak lagi dengan Ishizaki. “Hm... benarkah?” Oke, kalau senyuman setengah seringai Kazuki tadi berbanding 50-50, maka sekarang 30-70 dengan seringai mendominasi. “Bagaimana kalau kita foto berdua dulu? Ahahaha—” dengan itu, Kazuki merangkul bahu si Wakana juga. Tidak tahu diri? Hari ini tingkat percaya dirinya sedang melonjak sampai ke nirwana, jadi mohon maaf saja kalau ia berlaku seenaknya. Lagipula ini ulang tahunnya kan? Ayolah, masa sedikit bersenang-senang saja tidak boleh. Ia tidak punya maksud macam-macam, kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih merangkul Wakana dengan seenaknya, Kazuki melempar pandangannya ke sekitarnya, memperhatikan oknum-oknum yang mengerubunginya seperti semut satu per satu dan menyadari kalau mereka dari tadi tetap bergeming. Ah, ia meninggalkan kuenya sudah terpotong begitu saja dan ada pisaunya tergeletak di sana. Kenapa belum ada yang menyentuh? Jangan-jangan tujuan mereka datang memang bukan hanya kue tersebut. Jangan-jangan alasannya memang hanya... ia. Yeah, dirinya sendiri. Jadi selama ini ia terkenal (apalagi di kalangan juniornya) begitu? WAH! Kenapa pada segan memeberi tahu dirinya, hm? Cengiran lebar menghapus seringai Kazuki sebelumnya—sampai ia menemukan seorang juniornya yang memperhatikan kue di tangan salah seorang junior perempuannya. Tampangnya benar-benar menunjukkan kalau anak itu menginginkan kue tersebut. Ah, kenapa tidak ambil saja sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, biasanya tuan rumah yang melayani tamunya ya. Ah, sudah lama tidak tinggal di rumah, jadinya lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Kazuki melepaskan dirinya dari bahu Wakana, tidak mempedulikan jika ada keluhan atau ocehan dari korbannya barusan, lalu meraih pisau kuenya dan menggunakan benda itu untuk mengangkat salah satu potongan abstrak kue coklatnya, perlahan ia berjalan menuju anak perempuan itu (ah, Kazuki lupa namanya... atau bahkan, tidak tahu?) dan memasang cengiran lebarnya sebelum berkata, “Mau?”&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3808784878141510356-4167700131788959657?l=gullible-guitarist.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/4167700131788959657/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/happy-birthday-4.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/4167700131788959657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/4167700131788959657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/happy-birthday-4.html' title='Happy Birthday #4'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356.post-4832861626903502017</id><published>2009-09-28T08:26:00.000-07:00</published><updated>2009-09-28T08:31:08.533-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thread: Happy Birthday'/><title type='text'>Happy Birthday #3</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kazuki mengedipkan matanya beberapa kali lagi, memperhatikan orang-orang yang mengelilinginya... orang-orang yang tidak ia kenal. Oke, ia kenal dengan Ishi dan Madoka. Hoshino... yah, ia tahu nama dan tampang lah. Tapi yang lainnya? Menurutmu, apa yang menarik orang-orang ini untuk berkumpul mengelilingi Kazuki? Pemuda itu hanya mengenal beberapa dari mereka, itu pun hanya sebatas nama (pengecualian untuk Madoka dan Ishizaki, tentunya). Apa ia benar-benar terkenal (tanpa dirinya sendiri mengetahui? Hmm...)? Atau hanya karena kue yang ada di hadapannya ini? Kazuki melirik kue tersebut sekilas karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, yang manapun sama saja. Yang penting kali ini ada yang merayakan ulang tahunnya. (Dan Kazuki masih memilih untuk lebih mempercayai alasan pertama.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telinga Kazuki menangkap suara tiga tepukan ritmis, mengakibatkan kepalanya untuk menoleh ke arah sumber suara tersebut. Ternyata Ito—err, Madoka maksudnya. Yeah, beginilah nasib punya nama pasaran. Sudah nama depannya pasaran, nama belakang juga pasaran... mau mengeluh juga susah, karena itu pemberian terakhir dari ibunya. Ah, nasib. Terima saja apa adanya. Kazuki melempar pandangan bertanya pada gadis berambut coklat tersebut, sampai gadis itu mengajaknya untuk menyanyikan himne kebangsaan sebelum memakan kuenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah? Himne apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Himne kebangsaan, ya ya. Buat permohonan, Kazu. Sekalian juga mintakan permohonan untukku yang baik-baik, kalau sempat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ooh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kata-kata Ishizaki, cengiran lebar muncul kembali di wajahnya. Maksudnya lagu ulang tahun, toh. Ck, dasar manusia-manusia terlalu pintar, memilih kata saja susah. Kazuki menggaruk belakang kepalanya. Lagu ulang tahun, ya... Nadanya sih dia masih ingat. Tapi liriknya bagaimana ya? Euh, sudah lama ia tidak menyanyikan lagu tersebut. Keluarganya sudah tidak merayakan ulang tahun masing-masing lagi setelah ayahnya meninggal. Souichi terlalu sibuk dengan kerja dan kuliahnya, Keigo yang keluyuran entah kemana... Teman? Kazuki tidak pernah punya kesempatan untuk memiliki teman. Saat anak-anak lain mengajaknya untuk bermain baseball, ia harus bekerja serabutan di toko milik Hasagawa-sensei, mantan guru SDnya dulu. Lagipula, mereka sudah mencap Kazuki buruk duluan—yeah, mungkin karena ia sering tertidur di kelas dan nilai-nilainya tidak bagus. Entah alasan yang mana, tapi ia tidak mengeluh—tidak ada perayaan berarti ia tidak harus keluar uang kan? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;-masukkan tawa memaksa di sini-&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lagipula perayaan kali ini juga, ia tidak mengeluarkan sepeser uang pun, ne? Ahaha~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok,” Kazuki melepas rangkulannya dari pundak Ishizaki untuk menepuk kedua tangannya. Berjalan ke arah meja makannya, ia kembali memandang kue coklat yang masih utuh tersebut (yeah, ia yakin kue itu disihir sekarang) dengan mata berbinar. Apa yang seharusnya ia minta, hm?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;Uang.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yah, itu pasti. Entah kenapa sepertinya Souichi tidak puas dengan nilai yang ia berikan dan mungkin saja uang bulanan kiriman kakak tercintanya itu sepertinya akan berkurang. Dan ia masih tinggal di dalam lingkungan sekolah, mau cari uang bagaimana?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;i&gt;...Dia?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi kali.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Oke, Kazu. Membuat harapan jangan terlalu tinggi—nanti kalau dibalas dari ketinggian yang sama, impactnya jauh lebih besar... dan malah hancur. Kazuki menggelengkan kepalanya sebentar seraya menggaruk belakang kepalanya. Argh, tiup saja lilin ini sekarang daripada makin kepikiran—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;'Fuuh—'&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan itu kedua cahaya kecil yang menari di atas lilinnya terhembus pergi, menyisakan dua buah lilin dengan ujung yang meleleh sedikit. Tangannya lalu bergerak untuk mengambil pisau kue, mengangkatnya untuk memotong persegi tersebut menjadi beberapa persegi yang lebih kecil. Euh, tidak persegi juga sih. Bentuknya sedikit terlalu artistik—ia memang tidak berbakat dalam hal-hal dapur. Pandangannya lalu beredar ke selilingnya, bertemu dengan mata-mata buas yang sepertinya siap untuk menyerang kue miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sebelum mereka boleh menyerang kue tersebut...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nih.” Kazuki mengangkat sebuah potongan kue dengan pisaunya, mengangkatnya dan menaruh kue tersebut persis di hadapan Ishizaki. Ah, ditambah sebuah cengiran lebar (bodoh) lagi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3808784878141510356-4832861626903502017?l=gullible-guitarist.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/4832861626903502017/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/happy-birthday-3.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/4832861626903502017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/4832861626903502017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/happy-birthday-3.html' title='Happy Birthday #3'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356.post-2495543482467741276</id><published>2009-09-27T07:37:00.000-07:00</published><updated>2009-09-27T08:06:59.536-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thread: Happy Birthday'/><title type='text'>Happy Birthday #2</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sekali lagi kedua kelopak matanya berkedip, membiarkan agar matanya yang sedari tadi sudah terbuka lebar tidak kering dan perih. Oke, serakus apapun Kazuki, tidak mungkin ia bisa menghabiskan kue tersebut sendiri. Salahkan waktu datang kue tersebut yang telat; baru saja ia menyelesaikan makan siangnya, tiba-tiba kue tersebut muncul di hadapannya. Ah, sial. Seharusnya ia &lt;em&gt;ingat&lt;/em&gt; kalau ia pasti mendapatkan kue tersebut hari ini... yah, bagaimana bisa ingat kalau ia sendiri lupa kalau hari ini hari ulang tahunnya? Kazuki sudah terbiasa tidak merasakan ulang tahunnya, jadi hari ini hampir sama saja—sampai beberapa menit yang lalu kue tersebut sampai di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Senpai~ itu kue ulang tahun?" Suara tersebut datang tiba-tiba, tanpa sepengawasannya dan membuatnya terjengkang sedikit ke belakang menjauhi kue tersebut sebelum menoleh dan mendapati seorang anak perempuan menyapanya. Sepertinya salah satu dari juniornya... mungkin. Kazuki tidak terlalu terkenal di kalangan senior dan tidak terlalu memperhatikan adik-adik kelasnya—hmm, mungkin tahun ini ia akan sedikit meng&lt;em&gt;eksis&lt;/em&gt;kan dirinya... salah satunya dengan ini? Wogh, bisa juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yup, kue ulang tahun—“ Kazuki berusaha berkata cepat, tetapi masih kalah cepat dengan anak perempuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, hari ini ulang tahun yah? Selamat yah? haha--" &lt;em&gt;Oke, anak ini ngefans dengannya atau apa? Kelihatannya semangat sekali...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yup, hari ini aku ulang tahun err...” Nada suara Kazuki memelan di akhir dan sebuah bulir keringat menetes di sisi wajahnya. Yeaha~ ia baru ingat kalau ia tidak tahu sama sekali tentang juniornya ini—dan tentunya tidak tahu kalau juniornya ini mengenalnya. Jangan-jangan mereka pernah berkenalan? Atau tidak? Oh ayolah otak, bekerja lebih keras... ingat... ingat... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tok tok, Kazu disana?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“WAA—“ Dua kali. Dua kali ia dikejutkan hari ini—ck, ada apa dengan konsentrasinya? (Yeah, tidak pernah benar sih sebenarnya). Saat ia bengong, ada yang membuatnya kaget. Saat ia berpikir, ada yang membuatnya kaget juga. Jadi? Lebih baik berpikir atau tidak? Pilihan yang berat. Kazuki menggelengkan kepalanya pelan untuk mengusir pemikiran kacaunya tersebut, sebelum menoleh dan mendapati seorang anak perempuan (lagi) menyapanya... dalam jarak sangat dekat. Si Itou satu lagi, a.k.a Madoka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ulang tahun nih, ngomong-ngomong cake-nya terlihat enak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersenyum kecil pada gadis berambut coklat tersebut, Kazuki lalu mengangguk. “&lt;em&gt;Hai&lt;/em&gt;... kuenya terlihat enak. Dan terlalu besar untuk kuhabiskan sendiri.” Halo? Kazuki Itou? Sensitifitasmu perlu ditajamkan sedikit ya? Tidak sadar kalau orang-orang yang dari tadi menyapamu itu bertujuan hanya satu: mendapatkan bagian dari kue tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ingin memakannya, tapi tidak mungkin habis sendiri sepertinya, eh?” Ucapannya terdengar sedikit lebih pelan seraya pandangannya kembali pada kubus coklat mengkilat tersebut. Ah, tapi tidak lama. Tiba-tiba sesuatu—atau seseorang—menyentuh kepalanya dan mengacak-acak rambutnya (sebenarnya tidak perlu diacak-acak lagi, kawan—sudah berantakan kok dari awal). Ya, Kazuki tidak peduli dengan keadaan rambutnya, tapi siapa yang tiba-tiba mengacak rambutnya? Dan tebakan pertamanya adalah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ishi? HEI! Ah ya, makasih.” Tangannya bergerak merangkul bahu Ishizaki cepat, dengan sebuah cengiran yang makin lebar merekah di wajahnya saat mendengar ucapan selamat ulang tahun dari pemuda yang dapat ia bilang ‘teman’-nya (kalau dekat karena membuat masalah dapat disebut dengan ‘teman’, maka mereka adalah teman yang sangaaat dekat). “Kau mau kuenya, I—“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ulang tahunmu? Otanjoubi omedetou, ngomong-ngomong.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UOH! Nyaris kaget lagi. Tiba-tiba ada yang menginterupsi percakapannya dengan Ishizaki, seorang junior perempuannya lagi. Wah, wah... jangan-jangan sebenarnya ia terkenal di kalangan anak tahun pertama tapi ia tidak mengetahuinya? UOOO! Fakta itu dengan cepat menguasai otaknya dan membuat kedua matanya terbuka lebih lebar sebentar. Kalau begitu, seharusnya ia memanfaatkan hal ini, eh? Sebuah seringai kecil muncul di wajahnya untuk sepersekian detik sebelum bibirnya kembali membentuk senyuman lebarnya yang biasa. “Oh foto? BOLEH! Foto aku dengan dia ya!” Telunjuknya menunjuk Ishizaki yang berada di sebelahnya sambil menyeret anak laki-laki itu sedikit untuk mendekati junior perempuan berkamera tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, selamat ulang tahun, Itou-san. Kiriman dari rumah, ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uoo, ada lagi yang mengucapkan ulang tahun—Hoshino ternyata. Anak perempuan yang sekelas dengannya tahun ini. Ia tidak terlalu kenal dengan anak itu memang, tapi tetap saja... “Arigato, Hoshino! Dan bukan... ini tadi tiba-tiba ada. Hadiah dari sekolah ‘kan?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Wah, dari tidak mungkin habis... sepertinya kuenya ini akan habis tanpa sisa? Kazuki melirik kue yang masih belum tersentuh tersebut dari sudut matanya. Sepertinya api yang menyala di atas lilin angka 1 dan 5 tersebut adalah api sihir—panasnya tidak mempengaruhi lilin itu dan kuenya juga tidak meleleh karena panas dari api tersebut. Kalau begitu, ia dapat menunda acara tiup meniup dan potong memotong sampai nanti kan? Kita biarkan si anak perempuan tadi mengambil foto dulu, dong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tanjoubi omedetou, Itou-kun. Aku ke sini cuma mau bilang itu kok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lagi?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yep, lagi&lt;/em&gt;. Setelah Kazuki cek dengan menolehkan kepalanya ke arah sumber suara baru yang berbeda tersebut, ia mendapat seorang anak perempuan mendekatinya—junior dari asramanya. Siapa ya namanya... err, Arakawa? Kalau tidak salah itu nama anak perempuan tersebut. Wah, sepertinya ia harus menambah kapasitas otak bagian memori identifikasi, apalagi dengan makin banyak orang yang mengenalnya ini (sebenarnya, mereka kenal dirinya dari mana sih?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh? Benar?” Kazuki mengernyit sedikit, sebelum sebuah senyuman setengah seringai muncul di wajahnya—tidak serius kok, lihat saja cercah keisengan yang muncul di matanya. “Tidak mau kuenya?” Tangannya yang bebas bergerak meraih bongkahan coklat yang menjadi alas tulisan ‘otanjobi omedeto’ di atas kuenya dan mengangkatnya ke depan anak perempuan tersebut. “Sepertinya enak... aku tadi sudah mencoba sedikit sih.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3808784878141510356-2495543482467741276?l=gullible-guitarist.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/2495543482467741276/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/happy-birthday-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/2495543482467741276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/2495543482467741276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/happy-birthday-2.html' title='Happy Birthday #2'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356.post-2595086035755699141</id><published>2009-09-13T21:38:00.000-07:00</published><updated>2009-09-14T01:06:57.447-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thread: Happy Birthday'/><title type='text'>Happy Birthday #1</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;“WAH.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dua mata yang terbuka lebar dan mulut yang terbuka tidak kalah lebar, Kazuki Itou memperhatikan benda yang ada di hadapannya. Campuran terigu dan telur yang dipanggang sehingga menjadi kubus dengan lebar dan panjang sejengkal tangan, setebal kamus kanji, dilapisi warna coklat legam dengan aroma mengundang. Tapi bukan itu yang membuat ekspresinya bisa demikian—yah, itu juga sih—tapi yang membuat kedua matanya terbuka sedemikian lebar adalah tulisan berwarna putih yang ada di atasnya:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;お誕生日おめでとう&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“WAAAAAAH.” Seruannya keluar begitu kencang dari mulutnya, mengalahkan kebisingan kantin saat makan siang dan membuat beberapa orang yang melewati mejanya meliriknya aneh dan terdiam. Tapi Kazuki tidak peduli; ini adalah saat-saat dimana urat malunya sudah putus dan menghilang entah kemana dan dunia sekelilingnya seakan tiada. Binar di matanya makin cerah setelah beberapa kali lagi matanya bergerak mengiringi tiap huruf yang ada di atas kue coklat tersebut.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;otanjoubi omedeto&lt;br /&gt;--happy birthday--&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pluk. Sekarang ditambah dengan jari telunjuk kanannya teracung ke arah benda tersebut dan mengenai ujungnya persis. Kazuki lalu mengangkat tangan kanannya tersebut dan memperhatikannya seksama; benarkah itu... kue ulang tahun? Atau cuma suatu sihir yang membuatnya berhalusinasi kalau ada sebuah kue di sana? Matanya memicing seraya pikirannya mulai menghasilkan pertanyaan-pertanyaan untuk menyangsikan fakta yang sedang dihadapinya. Sampai pertanyaan baru muncul di kepalanya: kenapa tidak coba saja kuenya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, benar juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan itu, Kazuki memasukkan telunjuknya ke dalam mulutnya, menjilatnya cepat. Dan secepat lidahnya menyentuh krim yang ada di ujung tangannya itu, reseptor pada lidahnya bekerja dan mengirim impuls ke otak dan—oke, Kazuki lupa lanjutan dari kerja sistem syaraf, tapi yang jelas, ia benar-benar merasakan cokelat dan krim. Dan itu artinya apa? Kue yang ada di hadapannya nyata. Bukan tipuan magis, bukan halusinasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, Kazuki menempatan dirinya di tempat duduknya (dari tadi ia berdiri, asal kau tahu) dan mengamati kubus tersebut lebih dekat. Hidungnya mengendus aroma manis yang menguar dari jarak kurang dari lima senti—dan yeah, kalian bisa lihat kalau ujung hidungnya jadi coklat karena kena krim. Mengambil nafas dalam-dalam (atau menghirup aroma manis kue dalam-dalam?) Kazuki lalu menegakkan posisi duduknya dan mengambil pisau pemotong kue yang tergeletak di sebelah kue tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah ya, sebelum memotong kue seharusnya ia meniup lilinnya terlebih dahulu, benar? Dari tadi ia tidak sadar kalau di sudut kue tersebut tertancap dua buah lilin ‘1’ dan ‘5’ yang menyala terang. Untung saja tadi rambutnya tidak mengenai api lilin tersebut—kalau iya... yah, katakan sampai jumpa pada rambutnya tercinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-kedip-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ia jadi lupa mau melakukan apa—malah mematung memperhatikan kue tersebut jadinya. Norak? Memang. Terakhir kali ia ingat ia mempunyai kue ulang tahun sendiri adalah... entahlah. Tiga tahun yang lalu? Pokoknya, setelah ayahnya meninggal, ia sudah tidak pernah menikmati kemewahan macam ini. Bagaimana bisa kalau jatah uang dari kakaknya saja hanya cukup untuk makan tiga kali sehari? Laki-laki itu terlalu pelit kadang, atau mungkin harta peninggalan ayah memang tidak banyak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-kedip-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya meniup lilin ini sendirian tidak lucu juga, eh?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3808784878141510356-2595086035755699141?l=gullible-guitarist.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/2595086035755699141/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/happy-birthday-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/2595086035755699141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/2595086035755699141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/happy-birthday-1.html' title='Happy Birthday #1'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356.post-578286322412080172</id><published>2009-09-13T21:37:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T21:38:02.584-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thread: Sleep? Rumble'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><title type='text'>Sleep? Rumble! #1</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Tuk, tuk, tuk.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan senjata di tangan, Kazuki siap untuk menghabisi si Morigawa sialan. Cari subjeknya? Sudah. Setelah mengelilingi sekolah selama hampir satu jam ia akhirnya menemukan laki-laki sialan itu berbaring dengan santai di bawah pohon. Habisi dengan sihir? Tentu tidak, ia sangat sadar kalau kemampuan menyihirnya masih di bawah rata-rata, maka dari itu ia lebih memilih tongkat baseball untuk menghantam laki-laki tidak tahu diri satu itu. Untung saat ia berlari tadi, ia menghampiri anak-anak klub baseball yang baru saja selesai latihan dan masih membawa peralatan mereka. Menghampiri salah satu dari mereka yang ia ingat adalah juniornya, dengan cepat ia menyambar tongkat miliknya sambil mengacuhkan pandangan aneh yang mereka lempar pada wajah dan pakaiannya yang berbercak coklat karena darah yang mongering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, setelah melakukan masalah, tinggal ditinggal tanpa tanggung jawab? Bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Yah, Kazuki juga tahu kalau pertanyaan serupa juga harus dilempar pada dirinya sendiri. Karma? Ia mencoba untuk tidak mempercayai hal tersebut.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandang geram manusia yang sedang tertidur di bawah pohon, Kazuki mengetuk pemukul baseball itu makin keras ke batu yang ada di dekatnya. Kedua lengan hakama-nya telah terlipat sedikit di atas siku, membuat tangannya bergerak lebih nyaman. Kedua matanya memicing memperhatikan Shinji Morigawa tertidur dengan ekspresi tanpa beban terlukis di wajahnya, seakan-akan tidak ada kejadian apa-apa sebelum ia memejamkan mata. Dan apa itu selimut dan bantal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru sekali ini Kazuki bertemu dengan orang yang lebih kurang ajar dari dirinya sendiri. Beruntung baginya, ia sudah naik ke kelas 8 dan sudah tidak berada dalam asuhan Shinji lagi sebagai wali kelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari yang sudah terbenam dan penerangan yang minim tidak menghalanginya sama sekali untuk melakukan sedikit balas dendam. Justru keadaan ini menguntungkan, makin sedikit anak-anak yang berkeliaran di daerah taman dan itu mengurangi calon saksi yang mendengar kata-kata yang terlontar dari mulutnya serta runtutan kejadian yang akan terjadi berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“MORIGAWA BRENGSEK*, bangun sekarang!”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3808784878141510356-578286322412080172?l=gullible-guitarist.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/578286322412080172/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/sleep-rumble-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/578286322412080172'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/578286322412080172'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/sleep-rumble-1.html' title='Sleep? Rumble! #1'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356.post-6610172395984489695</id><published>2009-09-13T21:32:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T21:34:01.636-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thread: Yoru'/><title type='text'>Yoru #2</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;CATATAN MENTAL: JAUHI HIROMATSU DI ASRAMA. APALAGI SAAT TIDUR.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Kazuki mendelik ke arah lengannya yang sekarang digenggam tiba-tiba oleh Hiromatsu. Hal yang muncul pertama kali di kepalany adalah: Hiromatsu sok akrab--sebenarnya ia juga sih, dengan teriak-teriak dan sok menyapa tadi. Tapi begitu mendapat balasan dari Hiromatsu --yang berupa tatapan tajam-- Kazuki langsung mengurungkan niatnya untuk membuka mulut dan mengumpat keras-keras. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf Itou-san, apa yang sedang kamu lakukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow. Santai, bung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Umm--mencoba memegang rubah itu?" Kazuki menggoyangkan lengannya, menandakan kalau ia ingin tangannya dilepas sekarang. "Paling tidak, sebelum kau menahan tanganku..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rubah itu... siluman, ya? Bisa ngomong tidak?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatiannya teralih pada suara yang tiba-tiba ada di sana (yang secara logika tidak mungkin ada suara tiba-tiba muncul, pasti ada sumbernya) dan mengagetkan Kazuki. Dobel kaget, karena yang datang dua orang. Oh, coret itu. Tripel kaget, karena yang datang dua orang perempuan. Pertama, sejak kapan anak-anak perempuan suka keluar malam begini? Kedua, kenapa tempat ini makin ramai? (Alias, ini artinya ia harus mencari tempat pelarian baru). Ketiga, apa yang mereka pikirkan saat melihat Hiromatsu menggenggam lengannya? Demi Dewa, pertanyaan yang terakhir benar-benar membuatnya panik. Reputasinya di sekolah ini sudah cukup rusak, apalagi pasarannya--yah paling tidak itu menurut Kazuki sendiri, setelah Mori-sensei dengan sukses mencapnya sebagai penyuka sesama jenis. Ia tidak perlu namanya makin rusak lagi, hanya karena tertangkap basah keluar malam-malam dengan seorang pria menggenggam tangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah berganda; api si rubah membesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...Bagaimana menurutmu perihal 'kabarku' ketika melihat aku berada di sini, tepat di hadapanmu, Tuan?" Kazuki dapat mendengar perubahan nada suara si rubah saat berkata. Ah masalah berganda, si rubah kelihatan marah. Kazuki menampar wajahnya sendiri dalam hati. Perasaannya, ia datang ke sini hanya untuk menghabiskan malam berdua dengan gitarnya, dan sekarang ia terjebak dalam masalah ini. "Err--baik?" Bulir keringat menetes di sisi wajahnya. Ah, sial. Pasti si rubah marah karena ada Hiromatsu dan dua anak perempuan itu di sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurasa itu kedengarannya sedikit tidak sopan, nona.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagus, perhatian Hiromatsu sepertinya teralih penuh pada kedua anak perempuan tersebut. Kazuki menarik tangannya dari pegangan laki-laki tersebut, lalu mengibas tangan kanannya itu. Astaga, semoga anak-anak perempuan itu tidak sadar kalau tangannya tadi sempat digenggam Hiromatsu sebentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah, akhirnya lepas juga dari cengkraman si manusia ho--err, aneh itu. Tidak memedulikan tiga anak yang lain, Kazuki berjalan mendekati si rubah--tidak memedulikan pertanyaannya. Setelah usaha pertama dan keduanya menyentuh rubah itu gagal, sekarang harus berhasil. Mau siluman atau apapun, tetap saja bentuknya sekarang adalah rubah. Dan sebagai pecinta binatang yang baik --atau terlalu baik-- Kazuki benar-benar penasaran dengan rubah ini. Ukurannya agak lebih besar dari rubah biasa soalnya dan bulunya terlihat lembut...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tap.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUKSES~!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya kini berada di puncak kepala si rubah. Yah, baru menaruh tangannya saja sih--belum dielus atau apa. Tapi bagainya, itu adalah pencapaian terbaiknya selama ini. Sebuah cengiran penuh kemenangan menandakan hal tersebut. "Lihat, ia jinak 'kan?"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3808784878141510356-6610172395984489695?l=gullible-guitarist.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/6610172395984489695/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/yoru-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/6610172395984489695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/6610172395984489695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/yoru-2.html' title='Yoru #2'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356.post-8861388545276735370</id><published>2009-09-13T21:19:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T21:30:45.384-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='[Main Plot] Reflection of the One'/><title type='text'>[Main Plot] Reflection of the One</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Transmutasi mayat... syuting... BLABLABLA--&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persetan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Oke, mengumpat dalam hati itu tidak baik. Dan sebagai anak yang baik dan murid yang budiman, Kazuki jauh lebih memilih untuk mengumpat langsung--apalagi dalam keadaan seperti ini. Tapi bagaimana Kazuki bisa membuka mulut kalau ada cairan hasil pencernaan ini di mulutnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Glek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke... mungkin ia terlalu bernafsu untuk segera membuka mulutnya. Cairan itu jadi tertelan dan rasanya tidak perlu kalian tanyakan--seakan membakar tenggorokannya dan menjijikkan, bahkan bagi dirinya yang sudah biasa makan makanan sisa atau makanan yang sudah lewat masa berlakunya beberapa bulan. Mengelap ujung bibirnya dengan ujung hakamanya, ia siap untuk membuka mulut dan mengeluarkan seluruh perbendaharaan katanya. Ada Kochou di sini? Ada anak-anak lain yang melihatnya? Siapa peduli, yang penting seluruh dendamnya pada manusia menjijikkan berselera humor rendah bernama Shinji Morigawa ini dapat tersampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kazuki tahu ia sendiri suka (agak) kurang ajar pada orang lain, tapi ini keterlaluan. (Atau mungkin ini karma karena ia terlalu sering jadi anak kurang ajar? Err...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...Dan kouchou, tidak ada potong gaji please." Kazuki dapat mendengar si Shinji gila itu membuka mulutnya. Hah? Potong gaji? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;POTONG KEPALA.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mengangkat tangan kanannya, Kazuki menggunakan ujung hakamanya yang masih agak bersih untuk mengelap wajahnya... yang sebenarnya tidak berguna. Ujung hakama tersebut--lebih tepatnya, tangannya--tadi digunakan untuk menopang dirinya agar bagian belakangnya tidak langsung menghantam permukaan datar. Jadinya? Bukannya malah bersih, daerah sekitar hidung dan pipinya malah tercoreng warna merah pekat darah (buatan). Menyadari hal tersebut, kedua alisnya bertaut. Lagi, ia mencoba menggosokkan ujung hakamanya untuk membersihkan wajahnya... dan berhasil. Berhasil membuat wajahnya makin kotor maksudnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;PLAK!&lt;/span&gt; Kazuki menampar wajahnya sendiri--dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Nani shiteru no, Morigawa!"&lt;/span&gt; Disusul oleh sebuah daging yang mendarat di wajah Shinji. Melihat hal tersebut, sebuah senyum penuh kemenangan memunculkan dirinya di wajah Kazuki. Salut kepada Ishikawa-senpai yang berani memberikan pelajaran bagi Morigawa sialan tersebut. Kalau begitu... bagaimana kalau ia juga? Kazuki menunduk, memperhatikan lantai yang kotor dengan bercak-bercak dan kubangan darah... dan tidak menemukan apa yang ia cari. Oh, apa sudah dibersihkan semua oleh Kochou tadi? Sisa-sisa daging itu? Sialan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, lebih baik ia berdiri saja dan mengambil langkah keluar dari tempat ini sebelum ada lelucon yang jauh lebih lucu lagi terjadi. Seperti apa? Seperti itu --mata Kazuki mendelik ke arah Shinji (manusia itu tidak lagi pantas dipanggil dengan gelar 'sensei' baginya)-- yang dilakukan Shinji pada adik kelasnya, memberikan anak itu tongkat peri. Kazuki menyingsingkan kedua lengan hakamanya, masih dengan wajah kesal. Tapi mau apa lagi? Sekali lagi namanya tercoreng. Sudah dicap mencintai sesama jenis oleh gurunya, lalu sekarang wajahnya akan masuk ke koran sekolah dan satu sekolah akan tahu mengenai hal ini. Ia sudah tidak tahu harus menaruh muka di mana.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;'Menaruh muka.'&lt;/span&gt; (Dari sudut matanya, Kazuki dapat melihat potongan kepala'nya' tadi, dengan bekas luka dimana-mana membuat wajahnya tidak terlalu 'berbentuk'. Perutnya mulai terasa tidak enak lagi setelah membayangkan kalau mukanya ditaruh di... lupakan. Terlalu menjijikkan.)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi, saudara-saudara, langkah Kazuki Itou terhenti setelah ia mendengar kata-kata ini, yang diucapkan oleh si brengsek Morigawa: “Terima kasih sekali lagi atas bantuan kalian semua… karena berkat kalian aku dapat figuran yang cukup banyak. Sekarang—waktunya… KABUR, jya-nee… Hiro-sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Figuran...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...figuran...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...figuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini demi mendapat figuran... kenapa mereka --apalagi ia-- tidak diberitahu terlebih dahulu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Morigawa--" Telat, saat Kazuki berpaling dengan tangan yang terkepal dan wajah penuh siratan amarah, guru tercintanya itu sudah lompat bebas dari jendela. Dengan cepat, Kazuki berlari keluar dari laboratorium, menerobos kerumunan yang mungkin melihatnya dengan tatapan aneh. Yang ia pedulikan sekarang adalah mengejar si guru tidak tahu diri satu itu. Tidak peduli kalau pakaiannya kotor berlumuran darah, atau akan ada lebih banyak orang yang membicarakannya karena melihatnya berlari di lorong sekolah dengan pakaian seperti itu dan terlebih lagi berteriak kencang, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;"KUSO YAROOOOO--"&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3808784878141510356-8861388545276735370?l=gullible-guitarist.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/8861388545276735370/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/main-plot-reflection-of-one_13.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/8861388545276735370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/8861388545276735370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/main-plot-reflection-of-one_13.html' title='[Main Plot] Reflection of the One'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356.post-7071119584724400260</id><published>2009-09-13T20:53:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T21:10:17.650-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='[Main Plot] Reflection of the One'/><title type='text'>[Main Plot] Reflection of the One</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Jika ada kelas meramal di sini, maka ia tidak akan mengambilnya. Mungkin dulu jika ditawarkan ia akan mengatakan ya dengan segenap hati--siapa yang tidak mau tahu masa depannya seperti apa? Apalagi dengan keadaannya yang sekarang, bersekolah dengan biaya yang setengah ia tanggung sendiri dan tidak punya rumah untuk pulang saat musim panas, tentu ia perlu sesuatu untuk meyakinkan kalau masa depannya bisa lebih baik dari ini atau paling tidak jika terjadi sebaliknya, ia dapat mencegahnya sekarang. Yang tidak terpikir di kepalanya --yang memang agak jarang digunakan untuk berpikir-- adalah bagaimana kalau ia melihat kematiannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya mengalihkan pandang ke setiap sudut ruangan itu--kemanapun sebenarnya, kecuali ke objek yang berada beberapa meter di hadapannya, tetapi entah mengapa matanya tidak betah beralih pandang lama-lama, selalu saja tertarik kembali untuk melihat benda tersebut; sesuatu yang tidak ia inginkan untuk terjadi sebelum ia mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami-sama, kenapa ia memilih untuk melewati lorong depan kantor Morigawa-sensei tadi? Sial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Oke, sekarang bantu aku—Kazu dan Akio…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hah?" Mengernyitkan alisnya, ia lalu melempar pandangan bertanya pada mantan wali kelasnya tersebut. Hei, hei, apa-apaan ini tiba-tiba ia disuruh begini? Kami, ia ingin istirahat. Sesudah praktek sihir penuh kegagalan tadi, ia mau berendam di onsen dan tidur (maksudnya setelah berendam lho ya, bukan tidur di dalam pemandian) bukannya disuruh-suruh oleh si guru menyebalkan satu ini. Tapi mengingat reputasinya yang sudah tidak terlalu baik di mata guru yang satu ini dan betapa kurangnya nilai-nilai mata pelajarannya... tidak ada alasan lain yang dapat diproses otaknya untuk melawan si Morigawa ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;Kami... seharusnya ia menolak saat Morigawa mengajaknya. Sial.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yah, paling tidak ia ada teman, si Senbazakura itu. Kazuki melempar pandangan malas pada Senbazakura dan melipat kedua tangannya sambil menggumamkan berbagai kutukan yang bisa ia ingat seraya kakinya melangkah gontai mengikuti tuntunan sensei. Ah, selamat tinggal onsen. Sepertinya ia tidak akan mandi lagi hari ini... dan itu membuat ia sudah berapa hari tidak mandi? Lima? Enam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Morigawa sepanjang perjalanan ia acuhkan, pikirannya sudah melayang ke tempat tidurnya yang sangat empuk dan mengundang di asrama dan juga sederet rencana lain yang sudah ia persiapkan untuk malam ini, tidak lupa gitarnya dan tempat rahasia --yang sebenarnya sudah tidak terlalu rahasia lagi-- di taman. Oh ya, tidak lupa si rubah, siapa tahu ia bisa bertemu si rubah putih itu lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...yang sepertinya tidak. Tidak malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepalanya yang sedari tadi mendongak ke atas kembali menghadap lurus ke depan, memperhatikan kerumunan kecil yang terpaku di depan laboratorium dan kekkai yang membatasi mereka. Tampang mereka semua terlihat terkejut, seperti sehabis dikejutkan setan yang keluar tiba-tiba dari film hantu. Wew, bocah-bocah adik kelasnya ini belum terbiasa melihat hantu yang ada di sekolah ya? Tapi tidak juga... ada anak seangkatannya, ada senpai-nya juga malahan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;Dan harusnya ia curiga mencium bau anyir yang menggantung tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, mungkin seharusnya ia lebih banyak menggunakan otaknya untuk berkonsentrasi pada hal-hal di sekitarnya daripada mengkhayal.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Melihat Morigawa mengusir mereka semua, ia baru curiga. Yeah, butuh waktu cukup lama bagi otaknya untuk memproses informasi yang masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapati laki-laki mantan wali kelasnya itu membuka kekkai bagi ia dan Senbazakura, baru ia memasang kernyitan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat apa yang tercecer di dalam laboratorium, ia baru sadar kalau mengikuti kata-kata Morigawa memang tidak pernah menjadi pilihan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah—Akio-chan bagaimana menurutmu? Mirip dirimu bukan?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat... melihat itu, ia hanya bisa berharap itu bukan kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakinya bergerak sedikit, berusaha menyadarkan tubuhnya yang membeku kalau ia bukan patung--ia dapat bergerak, pergi dari sini, walaupun ia tidak yakin dapat membuka kekkai Morigawa atau tidak, tapi paling tidak ia dapat menjauh dari... dari benda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Splash---BRUK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakinya menginjak sesuatu yang licin, membuatnya tergelincir dan terjatuh kebelakang dengan sisi belakangnya mendarat terlebih dahulu. Mulutnya mengeluarkan bunyi ringisan pelan sebelum ia membuka kedua matanya yang terpejam sesaat. Kazuki dapat merasakan ada sesuatu yang ia duduki. Bergeser sedikit, ia mengambil benda tersebut dengan tangan kanannya, mengangkatnya perlahan dengan ujung jari telunjuk dan ibu jarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan menemukan kalau tangannya mengangkat benda yang sama persis dengan yang mengangkatnya, hanya saja dihiasi berbagai bentuk torehan dan daging yang... Ia tidak sanggup memegang benda tersebut lebih lama lagi. Dengan cepat ia melempar tangannya jauh-jauh. Tes, tes, tes, cairan merah pekat terpercik sedikit ke wajahnya dan mengubah warna ujung lengan hakama-nya dari abu-abu menjadi kecoklatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika ia mengatupkan mulutnya, berusaha menelan balik apa yang seharusnya ia muntahkan saat ini juga.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3808784878141510356-7071119584724400260?l=gullible-guitarist.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/7071119584724400260/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/main-plot-reflection-of-one.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/7071119584724400260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/7071119584724400260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/main-plot-reflection-of-one.html' title='[Main Plot] Reflection of the One'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356.post-1311139347366572627</id><published>2009-09-13T20:51:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T20:52:51.900-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thread: Yoru'/><title type='text'>Yoru #1</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Jreeeng--&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh &lt;em&gt;s***&lt;/em&gt;, senar gitarnya cempreng. Harus di-&lt;em&gt;stem&lt;/em&gt; lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kazuki mendekatkan kepalanya ke leher gitarnya, tangan kirinya memutar tuning keys senar enam lalu menyesuaikannya dengan senar atasnya, dan seterusnya, dan seterusnya. Matanya terpejam untuk konsentrasi penuh mendengarkan senar-senar tersebut bergetar, berubah-ubah nadanya, sampai akhirnya pas. Keheningan malam membantunya berkonsentrasi, memfokuskan seluruh pendengarannya pada getaran dari senar yang masuk ke dalam telinganya, memilah memorinya untuk menemukan nada yang tepat sebelum menetapkan dan menghentikan gerakan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tap.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...!" &lt;em&gt;SIAL&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah sial, ada yang tahu tempat ini? Atau hanya tersasar? Bagaimanapun, jika ia ketahuan ada di sini --apalagi malam begini-- ia harus mencari tempat persembunyian baru. Sial, padahal baru saja ia menemukan tempat tersembunyi di taman ini dan sepengetahuannya tempat ini sulit dicapai sehingga tidak banyak orang ke sini, apalagi malam-malam begini. Kalau begitu, ia harus pindah ke mana? Kolam renang? Kalau kekkai kolam renang di-non-aktifkan pada malam hari, tentu ia lebih memilih ke sana. Tapi malam-malam begini yang terbuka ya hanya... ruang terbuka. Bagaimana ia bisa ada di luar, kau tanya? Tentu saja, dari pulang sekolah ia tidak kembali ke asrama! Sudah siap dengan gitar dan tas ransel yang disembunyikan di luar, ia siap untuk bermalam dengan kasur tanah dan kelambu awan, hal yang dulu ia lakukan karena terpaksa dan sekarang malah menjadi kebiasaan sekaligus pelarian baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kazuki menepuk dahinya sebelum mengambil nafas panjang dengan ekspresi penuh kekesalan masih terpatri di wajah bocah itu. Matanya mendelik ke atas, memperhatikan bulan separo sebagai satu-satunya sumber cahaya di sana sebelum mengembalikan pandangannya ke depan dan bersiap untuk mencari oknum yang menemukan tempat tersebut. Atau kabur? Terlalu sulit untuk kabur, ia harus membereskan bawaannya terlebih dahulu, masih ada sedikit kewarasan dalam dirinya untuk tidak meninggalkan gitar dan tasnya, asal kau tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggerakkan kakinya, akhirnya ia memutuskan untuk menopang tubuhnya kembali dalam posisi tegap dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeansnya. Matanya memicing sambil memperhatikan sekitar, mencari tanda-tanda kehidupan. Apa... siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak seasramanya, Hiromatsu namanya kalau tidak salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;DOBEL SIAL!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampus saja ia, ketahuan oleh anak seasrama sendiri. Mana ia tidak dekat, bisa-bisa nanti ia dilaporkan, kalau ia dilaporkan nanti ia dihukum, kalau dihukum bisa-bisa dikeluarkan. Mampus. Mampus kuadrat. Mampus pangkat tiga--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--tidak jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melalui proses yang cukup lama, akhirnya otak Kazuki dapat memproses beberapa kesimpulan sebagai berikut...&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengapa ia harus takut pada Hiromatsu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Karena anak itu seasrama dengannya dan aib ini bisa tersebar cepat.&lt;br /&gt;2. Karena ia tidak dekat dengan Hiromatsu, sehingga tidak bisa memakai cara provokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengapa ia tidak perlu takut pada Hiromatsu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Karena anak itu juga keluar malam-malam&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...yang cukup jenius bagi otak setingkat yang ia miliki! Yeah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"HAI, HIROMATSU!" Yeah, yeah, cuek saja. Biarkan saja mereka sama-sama tahu kalau bukan hanya mereka ada di sini. Sudut-sudut mulutnya naik, hampir mengenai kedua matanya, membentuk senyuman-setengah seringai. Tangan kanannya melambai ke arah anak itu, sementara tangan kirinya masih bersembunyi di dalam kantung dengan damai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kaba..." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu menarik perhatiannya. Sesuatu yang lebih menarik dari Hiromatsu--OH JANGAN SALAH TANGKAP, ia tidak tertarik pada Hiromatsu karena ia menarik karena... begitulah. Kalian mengerti sendiri oke?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kabar?" Kazuki menelan ludahnya setelah mengucapkan dua kata tersebut, dengan intonasi yang lebih rendah tentunya, serta cengiran yang berubah menjadi senyuman lebar. Kepada siapa? Kepada makhluk yang mengalihkan perhatiannya dari Hiromatsu --sekali lagi, jangan salah tangkap-- si rubah putih musim panas setahun yang lalu. Setelah kejadian di taman kota itu, ia hanya sekali melihat si rubah yaitu saat ia dan rombongan anak-anak seangkatannya diboyong dari kereta ke kastil untuk seleksi asrama. Setelah itu? Ia tidak pernah melihat si kakak beradik rubah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua matanya berbinar memperhatikan seraya mendekati si rubah. Kazu mengulurkan tangannya ke arah kepala si rubah, siap mengelus sekaligus siap diterkam tangannya. Oke, ia ingat kalau rubah ini adalah rubah ajaib yang bisa membunuhnya kapan saja, tapi tetap saja... ia kangen. Pemilihan kata yang aneh? Tidak juga, kok. Sudah lama ia tidak melihat rubah berbicara... dan kapan lagi?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3808784878141510356-1311139347366572627?l=gullible-guitarist.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/1311139347366572627/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/yoru-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/1311139347366572627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/1311139347366572627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/yoru-1.html' title='Yoru #1'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356.post-303623734444206508</id><published>2009-09-13T20:44:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T20:47:18.316-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Kedua'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thread: K A Z U'/><title type='text'>K A Z U #1</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Kedip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedip, kedip--&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lebih dari lima menit tubuhnya membeku dalam posisi duduk berhadapan dengan meja kantin dengan hanya kedua kelopak matanya yang bergerak. Tangannya masih memegang buku yang sama dengan yang ia terima lima menit yang lalu; buku tulis biasa yang disampul dengan kertas pembungkus kado polos berwarna merah berisi catatan mengenai pelajaran yang terlihat seperti materi kelas atas dengan tulisan 'KAZU' tercetak jelas di sampulnya menggunakan tinta emas. Buku bertuliskan namanya, tapi bukan miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;K A Z U. Pakai alfabet biasa, bukan kanji. Perlu diingat kalau nilai Bahasa Inggrisnya jelek karena ia tidak dapat menulis alfabet biasa dengan benar? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meletakkan buku tersebut di atas meja, sekarang Kazuki memutuskan untuk melipat kedua tangannya di depan dada, kembali memperhatikan buku tersebut sambil mengingat kejadian sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Hai!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hah?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu Kazu 'kan? Seingatku sih iya. Jadi, ini pasti punyamu kan? Kalau bukan, kasih orangnya ya. Namamu pasaran sih. Ah ya, aku ada latihan... pergi dulu ya, Kazu! Daaah!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...Hah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mulut membentuk 'O' lebar dan mata yang membelalak tidak kalah lebarnya Kazuki memperhatikan sosok yang menjauh itu, masih terkesima dengan bagaimana seseorang dapat berbicara dengan kecepatan sepuluh kata per detik dan pergi begitu saja tanpa peduli lawan bicaranya mengerti atau tidak. Untung saja ia sudah biasa diomeli para pelanggan di toko swalayan tempat ia bekerja saat liburan kemarin, ia bisa mencerna kata-kata tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih membeku, pandangannya beralih ke buku yang diletakkan seenaknya oleh perempuan tadi di pangkuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, matanya perih membelalak terlalu lama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(kegiatan kedip-mengedip mulai dari sini)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;Setelah (berpose seperti) mengolah otak cukup lama, akhirnya otaknya dapat memproses laporan sebagai berikut...&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Beberapa alasan mengapa ia perlu mencari pemilik buku:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Buku itu bukan miliknya, jika ia menyimpannya maka artinya ia mencuri buku tersebut, dan itu dosa.&lt;br /&gt;2. Buku itu buku catatan pelajaran, isinya tercatat dengan rapih, yang punya pasti anak yang rajin, anak yang rajin pasti memerlukan buku catatannya untuk belajar.&lt;br /&gt;3. Buku itu tidak berguna baginya karena ia tidak mengerti materi yang tercatat di dalam.&lt;br /&gt;4. Ia tidak tahu 'Kazu' yang mana yang memiliki buku tersebut. Berdasarkan ingatannya yang tidak dapat diandalkan, wakil ketua student council sekolah ini dipanggil 'Kazu' juga. Kalau buku tersebut milik laki-laki itu dan ia tidak mengembalikannya, sepertinya kembali dari sini ia hanya tinggal nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Beberapa Satu alasan mengapa ia tidak perlu mencari pemilik buku:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. MALAS.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...yang cukup untuk membuatnya tetap duduk di bangku kantin dan menyingkirkan buku tersebut ke samping nampannya dan mulai mengangkat sumpit untuk menyantap tori katsu-nya yang sudah mulai dingin. Mematahkan kedua sumpit yang menyatu itu, ia lalu mengambil sejumlah besar nasi dari mangkuknya dan memasukkannya bulat-bulat ke dalam mulutnya diiringi dengan tegukan sup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, jika pemiliknya masih peduli, tentu saja ia akan mencarinya 'kan?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3808784878141510356-303623734444206508?l=gullible-guitarist.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/303623734444206508/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/k-z-u-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/303623734444206508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/303623734444206508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/k-z-u-1.html' title='K A Z U #1'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356.post-6306930293911716002</id><published>2009-09-13T20:42:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T20:44:22.620-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Pertama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thread: Nap'/><title type='text'>Nap #1</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Oke, ini adalah tempat yang aneh. Sangat aneh kalau tujuanmu adalah untuk mendengarkan musik dan bermain gitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat, hamparan luas air berpermukaan tenang itu. Kenapa tidak di ruangan kelas atau asrama saja? Oh, perlu diingatkan kalau tempat-tempat itu ribut? Satu-satunya tempat tenang di sini adalah perpustakaan, dan mimpimu saja kalau ada anak diperbolehkan menyetel dan main musik kencang-kencang di perpustakaan. Nah, karena itulah ia memilih tempat ini. Yap, kolam renang. Tidak ia rencanakan sebelumnya. Saat ia berkeliling mencari tempat yang cukup tenang dan tidak ada orang, ia menemukan kolam renang yang kosong. Sepertinya klub renang sudah selesai memakai tempat ini, hm?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangannya bergerak, jarinya berjalan di atas neck gitarnya, menari dari fret ke fret, melompati senar demi senar, dan menghasilkan bunyi. Cukup indah, perlukah ia catat kunci dan melodinya? Oh ya, ia sedang tidak melainkan lagu orang lain, melainkan mencoba membuat lagu sendiri... dan itu sulit. Sangat sulit. Sudah beberapa kali ia iseng mencoba, tetapi ia belum pernah mencapai setengah lagu--di pertengahan ia pasti langsung kehabisan ide, tidak ada feel dan--BLAM! Hilang begitu saja semua yang telah ia mainkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sepertinya kali ini terjadi lagi. Belum sampai satu menit, ia sudah kehilangan feel. Tidak ada niat melanjutkan, makin lama kuncinya makin tidak beraturan dan terdengar seperti lagu Maaya Sakamoto yang ada di discman-nya. Euh, sialan. Kazuki menutup matanya--frustasi. Berlebihan? Tidak juga. Ia meletakkan gitarnya di bawah bangkunya, lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat duduk besi itu--kursi besi panjang yang ada di sebelah kolam renang, bukan kursi tempat penonton duduk. Bagaimana menjelaskannya ya? Itu lho, kursi tempat para pelatih dan manager serta para anggota duduk. Persis di depan kursi penonton, tetapi selantai dengan kolam renang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, gunakan imajinasi kalian saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kazuki menarik nafas panjang, membiarkan lengan kanannya menutupi kedua matanya. Semalam ia tidak tidur dan ia merasa lelah sekarang. Sungguh amat jarang ia merasa kekurangan tidur. Biasanya kerja sampai malam bukanlah kendala, tapi sekarang hanya karena tidak dapat tidur saja ia merasa lelah. Berkali-kali mulutnya terbuka, rasa kantuk menyerang, dan matanya terasa berat. Belum lagi dukungan dari discman-nya yang sekarang memutar sebuah lagu akustik bertempo pelan... sepertinya sebentar lagi matanya akan tertutup, terbawa ke dunia mimpi, dan tidur untuk sisa hari ini. Untung saja ini hari Minggu. Oh, semoga jika ada orang yang menemukannya nanti tidak menceburkan dirinya ke kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan benar saja, tidak perlu setengah lagu untuk menidurkannya. Baru detik ke 40 dan matanya sudah tertutup sepenuhnya, dengan mulut sedikit terbuka dan dengkuran pelan terdengar. Headsetnya tetap berada di lehernya, mengalunkan lagu yang sama. Tangannya jatuh, hampir menyentuh lantai, dengan tangan kirinya terlipat di atas dadanya, di atas simbol di kausnya. Oh ya, ia tidak menggunakan Hakama-nya. Ini hari Minggu, masa ia harus tetap menggunakan seragamnya? Gila. Walaupun sudah sebulan lebih tinggal di sini, ia masih tetap tidak bisa mengikat tali benda terkutuk itu dengan benar. Jadi, biarkan saja ia kembali dengan kaus dan jeans-nya, oke?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3808784878141510356-6306930293911716002?l=gullible-guitarist.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/6306930293911716002/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/nap-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/6306930293911716002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/6306930293911716002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/nap-1.html' title='Nap #1'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356.post-2655701351740822325</id><published>2009-09-13T20:40:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T20:41:58.425-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1st Year Homeroom Class'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Pertama'/><title type='text'>[1st Year Homeroom Class] Late? No Problem, Just Relax #2</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BRAAAK!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow, lihat! Ada yang lebih terlambat darinya sepertinya, dan seharusnya Kazuki senang kan? Seharusnya. Tapi dengan posisi duduknya sekarang seulas senyuman pun tidak dapat ia torehkan di wajahnya. Baru beberapa menit dan kakinya sudah terasa seperti ditiban truk. Kram menyelubungi sepasang kakinya yang jenjang itu--yeah, ia memang tinggi untuk anak seumurannya--dan itu menyiksa. Sakit dan kaku, ia tidak dapat bergerak sekarang, punggungnya tidak dapat ditegapkan, dan ia setengah menunduk, menatap ke lantai, mengenang perginya kedua kakinya yang sudah tidak terasa sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa-apaan sekolah ini--&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Minna-chan, ohayou!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;--kok gurunya masih muda dan cantik?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini... ini bagaikan pencerahan, penerangan, katharsis bagi jiwa yang tersiksa dan tubuh yang tersiksa juga. Kilat di matanya berubah dari lesu menjadi semangat, memperhatikan perempuan muda yang baru saja masuk. Astaga, ia salah satu dari guru mereka? Yakin? Semuda itu? Dan... secantik itu? Biasanya guru-guru kan tua-tua dan bangkotan, tidak ramah pula. Lihat saja laki-laki yang sekarang mengoceh di depan kelas itu. Ia naik kalkun? Maksudnya apa hah? Memangnya kalkun bisa dinaiki? Lalu membuatnya menjadi kalkun panggang? Ia manusia--dan itu bukan berarti ia mau menjadi manusia panggang ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hiraukan saja lah, perhatiannya tertuju pada perempuan berambut panjang yang memperkenalkan dirinya sebagai 'Acchan'. Wah, sepertinya ia benar-benar guru yang baik ya? Masih muda, cantik, baik... kenapa bukan ia saja yang menjadi wali kelas VII-1? Daripada makhluk di depan ini--Kazuki mengerling ke arah gurunya--yang sepertinya perlu kelas pengendalian emosi. Coba kalau tiap hari ia diajar Acchan, bisa-bisa nilainya naik semua. Ia akan bernazar untuk rajin belajar--demi gurunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, seharusnya untuk penghormatan, ia memberi sedikit salam kan? Berdiri, lalu menunduk sembilan puluh derajat agar terlihat sopan, lalu memperkenalkan dirinya pada perempuan cantik di depan itu. Tapi sayangnya, kakinya tidak bisa bergerak. Sial. Kenapa tiap kali ada kesempatan seperti ini, ia tidak dapat melakukan apa-apa? Matanya masih memperhatikan perempuan itu, sampai seorang laki-laki yang duduk di dekatnya berdiri. Apa? Jangan bilang kalau laki-laki itu mau mendahuluinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...dan ya, tebakannya benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu si pemuda mawar (sekali lagi, dua arti, kawan) yang waktu itu! Dan kali ini ia mengeluarkan sebuah buket mawar di tangannya, bersiap seakan mau menghampiri guru perempuan tadi. Matanya seketika terbelalak, dengan mulut berbentuk 'O' lebar. Sial. Sial. SIAL. Kakinya masih tidak dapat bergerak, sial. Terkutuklah tempat ini dan siapapun yang memberi ide penataan kelas dan furniturnya! Sumpah, jika ia bisa berdiri sekarang, ia ingin menghancurkan tempat ini dan menghadap kepala sekolah untuk meminta sebuah barang sederhana, kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yoroshiku, Amemiya-san."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Woo-hoo, ada yang sedikit cemburu? Kazuki memperhatikan gadis yang baru saja memperkenalkan dirinya pada Acchan, perempuan yang sama dengan yang bertemu dengannya... di mana-mana. Di taman, di stasiun, di kereta. Dan sekarang di kelas. Takdir? Nasibmu bagus kalau begitu, bisa sekelas dengan Kazuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Musik?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kapan ada radio--sejak kapan tempat ini berubah menjadi bar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya membelalak menyadari perubahan suasana di sekitarnya, dari kelas menyedihkan tanpa kursi menjadi sebuah... bar. Dengan gurunya yang sekarang terlihat seperti seorang host mengenakan setelan necis lengkap. Lalu muncul kaleng-kaleng soda entah dari mana dan penguin-penguin yang berkeliaran seakan mereka adalah pelayan di klub dadakan itu. Omong-omong, tuxedo sensei membuatnya terlihat mirip dengan para penguin itu, eh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, ternyata gurunya ini lumayan juga, menyiapkan pesta penyambutan seperti ini. Walaupun agak mengesalkan melihatnya di depan sana merangkul Acchan. Ya sudahlah, mumpung ia bisa berdiri dan duduk di kursi (dan dapat soda gratis!), lebih baik manfaatkan saja itu. Oke, ayo coba gerakkan kakimu, Kazuki. Berdiri. Luruskan kaki, lalu tekukan lagi untuk menumpu tubuhmu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bruk!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya masih belum bisa. Kakinya terlalu kaku, dan pada akhirnya ia malah jatuh ke kiri. Ke laki-laki yang duduk di sebelahnya. Hei, itu laki-laki yang waktu itu ia temui di jalanan kan? Siapa namanya? Shimada? Terserahlah, ia benar-benar terlihat bodoh sekarang. Sialan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3808784878141510356-2655701351740822325?l=gullible-guitarist.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/2655701351740822325/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/1st-year-homeroom-class-late-no-problem_13.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/2655701351740822325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/2655701351740822325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/1st-year-homeroom-class-late-no-problem_13.html' title='[1st Year Homeroom Class] Late? No Problem, Just Relax #2'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356.post-7911306201509626024</id><published>2009-09-13T20:37:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T20:40:07.856-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1st Year Homeroom Class'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tahun Pertama'/><title type='text'>[1st Year Homeroom Class] Late? No Problem, Just Relax #1</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Ini. Gila. Yang ia pakai, maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan salahkan Kazuki kalau ia terlambat tiap kelas pertama--ia tidak peduli kalau tidak sempat sarapan--pokoknya, jangan salahkan ia kalau setiap kelas pagi ia selalu datang paling lama. Lihat betapa gilanya sekolah ini, memberikan Hakama untuk seragam! Kau pikir memakai Hakama gampang, hah? Oke, kalau kau hidup di sebuah desa terpencil dengan budaya yang masih sangat amat dijaga, mungkin jawabannya adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ya&lt;/span&gt;--kalau perlu dengan huruf kapital semua. Tetapi kalau dari kecil tinggal di kota? Jawabannya adalah keadaannya sekarang--begitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;naas&lt;/span&gt;. Berdiri di kamar laki-laki asrama Kiku, sebagai satu-satunya makhluk yang tersisa di sana, dan berkutat dengan bagaimana mengikat Hakama dengan baik dan benar. Oh ya, satu lagi, mungkin saja ia dapat memakai Hakama-nya lebih baik jika tidak ada lambang bunga krisan besar. Tetapi ini masih jauh lebih baik dibanding asrama tetangga, ia tidak bisa membayangkan bagaiman anak-anak laki-laki lain dengan pola bunga &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pink&lt;/span&gt; dan merah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah seringai--entah seringai atau senyuman karena menahan tawa--muncul di wajahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jahat? Tidak... masa' begitu saja dibilang jahat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah seringai kecil muncul di wajahnya, mungkin ia akan terlambat hari ini, tetapi ia akan menikmati melihat anak-anak lain memakai seragam bunga-bunga. OH! Apalagi si tukang mawar waktu itu. MUAHAHAHAHA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Hakama-nya dan ikatannya yang sangat amat tidak jelas. Mungkin dalam sekali tarik bisa copot, atau malah tidak bisa dicopot sama sekali--masa bodoh lah. Ia sudah menghabiskan lebih dari setengah jam sendiri untuk seragam ini, bahkan sampai tidak mandi. Ya sudahlah, yang penting terpakai, lagipula di dalam masih ada celana kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain kali ia harus menyetel alarm-nya lebih cepat. Kastil ini besar, dan ia benar-benar hilang sekarang. Berjalan mengikuti koridor panjang, tetapi tidak menemukan ruangan yang dimaksud; kelas tujuh satu. Padahal ini adalah kelas perdananya dan adalah perwalian. Ia tidak tahu guru seperti apa, dan tentunya--ini tulus--ia ingin terlihat baik di hari pertama. Cari perhatian sedikit lah, guru-guru kan suka dengan murid-murid ber-image baik. Mereka dapat dengan mudah keluar dari masalah, di saat anak-anak sepertinya harus susah payah mencari alasan kenapa mereka tidak membuat PR dan tetap diberi hukuman, anak-anak 'teladan' cukup membuat alasan yang sangat sederhana dan tidak masuk akal (dimakan anjing peliharaanmu? Astaga, alasan jaman kapan itu?) lalu dibebaskan dari hukuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sepertinya kesempatannya untuk membuat citra baik di hari pertama sirna sudah. Ia sudah telat saat masih membetulkan Hakama-nya, dan sekarang ia tersesat. Hebat lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya menangkap sesuatu, ada orang berjalan tidak jauh di depannya. Laki-laki... dan sepertinya ia pernah lihat orang itu--AH! Ia ingat sekarang (Kazuki menepuk dahinya), orang itu kan yang waktu itu kenal dengan kedua rubah ganas berbicara? Yang hampir memakan dirinya dan seorang gadis lain itu? Mungkinkah orang itu tahu dimana kelasnya? Atau jangan-jangan ia adalah guru di sini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba buntuti dulu. Tapi kalau tebakannya salah, bisa-bisa ia makin terlambat... ah siapa peduli tentang terlambat lah. Ia sudah keburu mendapat hukuman padahal baru beberapa hari menjejakkan kaki di sini, gara-gara si bocah mawar (ini bermakna dua kawan, praktis ya) perokok waktu itu. Ya sudahlah, terlanjur basah istilahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjaga jaraknya, ia terus mengikuti gerak laki-laki itu, melewati lorong demi lorong... sampai akhirnya laki-laki itu berhenti. Dengan cepat Kazuki mundur beberapa langkah, pura-pura terlihat seperti bocah nyasar yang mencari kelasnya dan bukan sebagai seorang penguntit. Kemudian terdengar suara pintu bergeser dan terdengar ribut dari dalam kelas. Kedua matanya memicing, berusaha melihat apa yang terjadi di dalam sana selama sekian detik pintu tersebut dibuka dan ia melihat wajah familiar, salah satu anak yang ada di seleksi waktu itu. Wah, jadi itu kelasnya? Kali ini dewa keberuntungan sedang (cukup) berpihak padanya ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, tinggal masuk, ucapkan maaf, kabur ke tempat duduk, dan semua beres! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itulah yang ia lakukan, berjalan mendekati pintu tersebut dengan santai, tidak sadar kalau ia sudah terlambat sangat amat lama dengan keadaan seragamnya yang terlihat sangat tidak rapih. Tapi Kazuki tetap Kazuki, ia tidak peduli. Yang penting kewajibannya terpenuhi, masuk kelas. Beres kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Sreeek,' pintu itu bergeser pelan, ia mengintip sedikit dari celah yang ia buat sebelum menggeser pintu lagi, memberi lebih banyak ruang untuknya masuk, tetapi ia malah mematung di ambang pintu, memperhatikan anak-anak di dalam satu per satu dan mendapati kalau mereka sedang memperkenalkan diri--ah, itu si bocah mawar, siapa namanya? Ishizaki kan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya menangkap sesuatu yang ganjil... tidak ada kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sial, mereka duduk di lantai? Seketika ekspresinya berubah masam, ia tidak kuat duduk dalam posisi bersimpuh terlalu lama, kakinya bisa kram. Tidak bolehkah mereka duduk bersila saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan—kalian yang belum memperkenalkan diri, SAMPAI KAPAN KALIAN MAU MEMBUATKU MENUNGGU EH?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wow. Kontrol emosimu. Kazuki kaget mendengar si laki-laki itu berteriak tiba-tiba, ia lalu buru-buru masuk ke dalam dan berdiri di dekat tempat kosong, sedikit membuat bantal duduknya bergeser. Hampir saja ia menempatkan dirinya untuk duduk, sebelum tersadar kalau ia harus memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. "Itou. Kazuki Itou," ucapnya cepat, menunduk pada laki-laki di depan kelas dengan cepat sebelum menempatkan dirinya di atas bantal duduk dalam penyiksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3808784878141510356-7911306201509626024?l=gullible-guitarist.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/7911306201509626024/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/1st-year-homeroom-class-late-no-problem.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/7911306201509626024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/7911306201509626024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/1st-year-homeroom-class-late-no-problem.html' title='[1st Year Homeroom Class] Late? No Problem, Just Relax #1'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356.post-6371678402648939245</id><published>2009-09-13T05:00:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T05:02:15.808-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seleksi Asrama'/><title type='text'>Seleksi Asrama (1998)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Sesuai dengan nazarnya saat menjejakkan kakinya pertama kali di dalam kereta tadi, ia tidak tertidur sama sekali selama perjalanan. Matanya terus memperhatikan ke luar, walaupun posisi duduknya tidak di sebelah jendela. Atau bercengkrama dengan yang lain. Case gitarnya berada di sisinya, dengan tas ransel buluknya ia taruh di dekat kakinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada jam di pergelangan tangannya, ia tidak tahu kereta ini sudah jalan berapa lama, tapi rasanya belum lama saat kereta itu berhenti. Anak-anak lain sudah mulai menyiapkan barang-barang mereka, mengambil dari rak, menggendong ransel mereka, dan mulai turun saat ia masih terperangah. Cepat sekali? Sepertinya baru saja ia berdiri di ambang pintu tadi dan berseru minta izin duduk, dan sekarang mereka sudah sampai? Kazuki memasang headphonenya pada telinganya sekarang, sebelum menggendong kembali gitar dalam case-nya dan menyeret ransel buluknya sampai menuruni tangga kereta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola-bola api biru yang menggantung di udara—oke, bukan menggantung, tapi melayang—memberi sedikit penerangan bagi kedua matanya. Cahaya biru itu memberikan sedikit perasaan aneh, membuat bulu kuduknya berdiri. Bola-bola api seperti itu kan biasanya ada di film-film horror, dimana nanti keluar setan yang menarik perhatianmu dengan bola-bola api seperti itu. Oh ya, ia lupa. Tempat yang ia jejaki sekarang bukanlah Jepang ‘biasa’, melainkan ‘sisi sihir’ dari Jepang yang ia ketahui. Bukankah ia sudah melihat seekor rubah berbicara waktu kemarin berbelanja? Seharusnya sedikit api biru tidak membuatnya takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ia adalah seorang anak perempuan, mungkin ia sudah pingsan saat ini, melihat bahwa ternyata dua ekor rubah yang memimpin barisan itu. Kazuki menelan ludahnya, masih ada sedikit perasaan ganjil karena rubah berbicara yang waktu itu hampir memakannya. Oke, alihkan saja perhatiannya. Matanya memperhatikan barisan yang terdiri dari beberapa anak itu, terus bergerak maju menuju entah ke mana ia tidak tahu. Oh, kalau dipikir-pikir, mereka akan dibawa ke mana, eh? Langsung ke akademi itu? Atau ada tempat baru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua alisnya bertaut, kenapa mereka membawa dirinya dan anak-anak ini ke… sebuah kastil tua? Seperti yang ada di drama-drama jaman perang itu lho, yang dihuni raja-raja jaman dulu (jaman sekarang juga sih) dengan samurai-samurai berloncatan di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerbang telah mereka lewati, dan sekarang seorang wanita tua berkimono ungu menyambut mereka. Hee… kenapa semuanya di sini seakan mundur ratusan tahun yang lalu? Dari kastil tua, lalu wanita berkimono, tidak lupa pakaian yang harus ia pakai di sekolah nanti adalah hakama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat datang di Ryokushoku o obi ta, kata wanita itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya membelalak, lalu kembali memperhatikan sekitarnya. Jadi benar, ini adalah tempat ia akan bersekolah? Di sebuah kastil seperti ini? Dan dengan rubah-rubah. Hebat. Sepanjang hidupnya sekarang akan diisi oleh rubah-rubah mistis yang dapat berbicara sepertinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kazuki Itou.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya sudah terlambat untuk kembali ke Tokyo dan kembali bekerja di jalanan, eh? Namanya sudah dipanggil untuk maju ke depan, seperti anak-anak sebelumnya. Kazuki menarik nafas panjang, sebelum tangan kanannya menarik ransel buluknya dan membenarkan posisi gitar yang ia gendong di pundak kirinya lalu menyeruak kerumunan kecil itu. Tidak ada rasa deg-degan atau khawatir sekalipun di hatinya. Tapi, jika sekolah ini tidak menerimanya, awas saja. Ia sudah mengeluarkan banyak uang untuk membeli perlengkapan sekolah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua manik hitamnya sekarang memandang bola kristal yang ada di hadapannya, lalu menjatuhkan ranselnya sebelum menyentuh benda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa? Ia harus berdiri di sini sampai pagi? Cepatlah, punggung dan pundaknya sudah sakit membawa gitar ini kemana-mana dari tadi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3808784878141510356-6371678402648939245?l=gullible-guitarist.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/6371678402648939245/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/seleksi-asrama-1998.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/6371678402648939245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/6371678402648939245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/seleksi-asrama-1998.html' title='Seleksi Asrama (1998)'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356.post-3375300385783846429</id><published>2009-09-13T04:58:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T05:00:34.229-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='First Letter'/><title type='text'>Kazuki's First Letter (1998)</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;'Sreek'&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gigi depannya yang rapih menggigit pembungkus roti di tangannya, plastik tipis itu robek dengan cepat sebelum ia ludahkan jauh-jauh ke jalanan. Mulutnya terbuka lebar untuk menyambut roti melon hasil curi--&lt;em&gt;usaha&lt;/em&gt;nya tadi. Betapa nikmatnya menikmati usaha sendiri, apalagi kalau sudah tidak makan dari kemarin siang. Dan yang ia dapat sekarang cuma roti, yah, lumayan lah daripada tidak makan sama sekali. Rekor terlama ia tidak makan adalah... hmm, empat hari kalau tidak salah, dan ia tidak mau memecahkan rekor lebih lama lagi, terima kasih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kirinya mengangkat headphone yang tergantung di lehernya lalu memakaikan benda tersebut di kepalanya, lalu jemarinya turun dan meraba discman yang tersangkut di pinggangnya dan menekan tombol play disusul petikan gitar Ken dari L'Arc~en~Ciel pada gendang telinganya. Akustik di awal lagu Niji memang keren, berkali-kali ia mencobanya di gitarnya sendiri, tetapi belum berhasil. Oh well, mungkin nanti sampai di 'rumah' ia bisa mencoba lagi, mungkin kunci yang ia cari waktu itu belum tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya menatap ke langit biru cerah bertabur awan di atas sana. Awan-awan itu... kalau diperhatikan seperti bantal ya. Coba ia bisa terbang ke atas sana dan tidur. Sewa apartemennya baru saja dicabut sebulan yang lalu karena uang persediaannya habis dan Souichi tentunya tidak akan mengirimkannya uang. Yeah, kakak menyebalkan. Masih enak dia, paling tidak tidur di asrama universitasnya. Daripada Kazu? Sebulan terakhir ini kalau tidak tinggal di rumah Oji, ia harus tidur di tempat Hanamura-san yang berbaik hati meminjamkan gudang tokonya untuk ia tempati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"HEI BOCAH! Berhenti kau!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;'Glek.' &lt;/em&gt;Menelan ludah dan menelan bulat-bulat roti melon tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kazuki tahu suara siapa itu. Tahu benar. Sangat hafal malahan. Bagaimana tidak hafal? Kalau tiap kali mereka bertemu pasti terdengar teriakan seperti itu, disusul dengan acara kejar-kejaran bahagia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejar-kejaran bahagia? Yap, seperti sekarang ini misalnya. Lihat, di belakang Kazuki ada seorang laki-laki tua berambut hampir putih semua dengan badan tambun dan jenggot tipis beserta sebuah golok terangkat-angkat di tangan kirinya, berlari dengan kecepatan (&lt;em&gt;arigato, Kami-sama&lt;/em&gt;) lambat dengan beda jarak kira-kira tujuh meter dengannya. Dan ia? Tentu saja berusaha mengerahkan kecepatan terbaiknya dan membagi tenaganya untuk membawa gitar di punggungnya. Oh, ini biasa. Sangat biasa. Hitung-hitung olahraga harian lah, latihan agar kakinya tidak mudah lelah. Ia sudah tidak pernah latihan atletik lagi, lagipula. Bingung ya kenapa si buncit itu mengejar Kazu? Yah, karena roti tadi sebenarnya. Roti itu... umm, hasil 'usaha'-nya. Usaha mencuri maksudnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm, baguslah si tua itu masih tetap saja lambat. Sebuah seringai kecil muncul di wajahnya, kakinya masih terus berlari, membawanya melewati daerah pertokoan, menyeruak di antara orang-orang yang marah dan bingung. Melihat sekilas ke belakang, si tambun itu sudah kehilangan jejaknya sepertinya. Ha, siapa suruh jadi orang gendut (masukan suara orang--tepatnya Kazuki--menahan tawa di sini) dan tidak bisa berlari? Berbelok, Kazuki memasuki sebuah gang sempit. Si tambun itu tidak akan sadar ia masuk ke dalam sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"BERHEEEENTIIII!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;'Sial.'&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ergh, sepertinya salah juga ia mengajak Paman Tambun berlari tiap hari, lama-lama laki-laki itu bertambah cepat--dan dapat mengimbanginya, sedikit. Laki-laki itu baru ada di mulut gang, sementara ia sudah hampir mau keluar ke sisi lain--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;PPONG!&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'&lt;em&gt;Dhuak!' &lt;/em&gt;Tersandung, lalu jatuh. Muka duluan, dengan begitu hebatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga, itu tadi bunyi apa eh? Tiba-tiba saja dan begitu kencang. Dan sepertinya ia melihat sesuatu tadi di depan, tapi apa? Dan astaga--lihat pakaiannya sekarang kotor semua karena terkena tanah dan hidungnya berdarah--dan sakit. Patah? Euh, jangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Konnichiwa&lt;/em&gt;, tuan-tuan dan nyonya serta calon murid yang terhormat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Konnichi--" Ia baru saja mau melanjutkan kata-katanya, kalau ia tidak sadar makhluk yang ada di hadapannya adalah seekor tikus--dengan ekor yang super kepanjangan dan bentuknya seperti rakun. Oke... ini aneh. Tidak ada tikus berekor rakun. Atau ada? Yah, kau tahu kan seperti di TV-TV itu, berbagai hewan aneh dan ajaib yang langka. Mungkin ini salah satunya. Dan lihat, ia bisa bicara. Keren!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seperti yang sudah bisa Anda duga sebelumnya--" Tidak tuh, ia tidak menduga apa-apa. Dan oh ya, mana si tambun pemilik bakeri tadi? Menghiraukan si makhluk aneh, Kazuki berusaha berdiri, lalu membersihkan bagian depan pakaiannya sebelum membalikkan badannya dan menemukan kalau si tambun tergeletak. Pingsan sepertinya. Oh, kaget karena melihat si hewan? Wogh, bagus lah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"…akhir kata, izinkan saya undur diri dari hadapan Anda sekalian. Adiosu, Mata nee!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;JAA&lt;/em&gt;! MAKASIH SUDAH MEMBANTU YA, HEWAN TIDAK JELAS!" Kazuki melambaikan tangannya... pada udara. Kemana hewan tadi? Lalu di hadapannya ada buntalan. Harus ia apakan ya? Makan? OH. Jangan-jangan isinya bekal makanan! Lumayan, ia benar-benar sedang defisit beberapa hari ini. Oh, ya sudah lah. Ambil saja benda itu, buka, dan kembali ke tempat Oji.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3808784878141510356-3375300385783846429?l=gullible-guitarist.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/3375300385783846429/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/kazukis-first-letter-1998.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/3375300385783846429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/3375300385783846429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/kazukis-first-letter-1998.html' title='Kazuki&apos;s First Letter (1998)'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3808784878141510356.post-3404556807163974020</id><published>2009-09-13T04:06:00.000-07:00</published><updated>2009-09-13T04:36:36.492-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biodata Karakter'/><title type='text'>Biodata Karakter</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ryokushoku o Obita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Japanese Academy of Magic&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Nama Lengkap]:&lt;/span&gt; Kazuki Itou&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Nama Panggilan]:&lt;/span&gt; Kazuki, Kazu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Tempat dan Tanggal Lahir]:&lt;/span&gt; Tokyo, 7 Juni 1984&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Kewarganegaraan]:&lt;/span&gt; Jepang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Asrama]: &lt;/span&gt;Kiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Mahou no Tsue (Tongkat Sihir)]:&lt;/span&gt; Cedar, inti thistle, panjang 28 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Peliharaan]:&lt;/span&gt; -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Alat Transportasi yang Dibawa di Ryokubita]:&lt;/span&gt; -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Barang Elektronik yang Dibawa di Ryokubita]:&lt;/span&gt; Discman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Kegiatan yang Diikuti]:&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Klub Musik&lt;br /&gt;Klub Kyuudo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Latar Belakang Keluarga&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Nama Ayah]:&lt;/span&gt; Satoru Itou (Alm.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Nama Ibu]: &lt;/span&gt;Naoko Itou (Kouga) (Alm.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Nama Saudara]: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Souichi Itou (Kakak laki-laki, lebih tua 5 tahun)&lt;br /&gt;• Keigo Itou (Adik laki-laki, lebih muda 2 tahun)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Latar Belakang Keluarga]: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Itou adalah sebuah keluarga biasa yang tinggal di Tokyo, keuangan mereka biasa-biasa saja, pekerjaan Satoru juga hanya pegawai kantoran biasa, tetapi keluarga mereka hidup tentram... begitulah yang diketahui masyarakat. Yang tidak mereka ketahui adalah Satoru ternyata seorang penyihir. Malahan, keluarganya secara turun temurun adalah penyihir, tapi karena ia tidak menyukai cara hidup keluarganya, Satoru memilih untuk menjadi orang 'biasa' setelah lulus dari Ryokubita dan berharap dapat hidup lebih tenang. Tetapi kejadian tidak diharapkan terjadi, saat istrinya (Naoko) melahirkan anak keduanya, Kazuki. Terjadi komplikasi saat proses melahirkan, membuat pendarahan dan Naoko meninggal tiga hari setelah persalinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu, Satoru tidak membenci anaknya dan tidak pernah menyalahkan Kazuki walaupun anaknya itu bebal tiada ampun. Berlawanan dengan ayahnya, Souichi menjadi agak 'sensitif' pada adiknya itu dan selalu menjelek-jelekkan adiknya apalagi adiknya dapat digolongkan sebagai anak yang 'biasa saja' jika dibandingkan dengan dirinya yang memiliki segudang bakat dan prestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Kazuki berumur 8 tahun, Satoru membawa pulang seorang anak laki-laki bernama Keigo ke rumah mereka dan mengatakan kalau bocah itu akan diangkat menjadi anaknya. Apa alasan Satoru, lelaki itu tidak pernah menjelaskannya pada kedua anaknya. Souichi menentangnya habis-habisan, tetapi apa daya, Souichi masih peduli dan menghormati ayahnya dan menerima hal tersebut apa adanya. Souichi sendiri tidak pernah memedulikan keadaan Keigo dan pada kenyataannya, Souichi sedikit banyak iri dengan adik angkatnya yang memiliki bakat menari dan risih dengan sifatnya yang agak cengeng. Tapi kebalikan untuk Kazuki, ia malah sangat peduli pada adik barunya tersebut dan menyayanginya (tentunya) lebih dari Souichi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, saat Kazuki berumur 12 tahun, Satoru didiagnosa menderita kanker dan meninggal enam bulan kemudian, meninggalkan kedua anaknya menjadi yatim piatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Souichi yang tahun itu juga harus masuk (dan sudah diterima) di Universitas Tokyo merasa terpukul. Memutuskan untuk tinggal sendiri dan mencari beasiswa serta bekerja paruh waktu, meninggalkan kedua adiknya yang ia anggap membawa sial dan hanya merepotkan. Sempat hidup hanya berdua dengan adiknya selama beberapa lama, adiknya meminta untuk hidup sendiri. Sebenarnya Kazuki tidak rela melepas Keigo begitu saja, tetapi berhubung dengan ia juga harus masuk ke Ryokubita, jadi mau tidak mau ia melepas adiknya itu. Hampir setahun Kazuki menggelandang di gang-gang Tokyo sebelum akhirnya mendapat surat ajaib si luwak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Data Personal&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Tinggi / Berat]:&lt;/span&gt; 168cm / 50kg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Golongan Darah]:&lt;/span&gt; B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Warna Mata]:&lt;/span&gt; Hitam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Warna Rambut]:&lt;/span&gt; Hitam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Warna Kulit]:&lt;/span&gt; Kuning langsat, agak coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Ciri khusus]:&lt;/span&gt; Kulit agak coklat karena terbakar matahari, rambut hitam acak-acakan setengkuk. Ada bekas luka di pipi kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Personaliti Karakter]:&lt;/span&gt; Mood maker dan heboh, malah bisa dibilang berlebihan. Tidak berpikir panjang (jarang berpikir malahan) dan berlaku sesuka hati. Semangat dalam segala situasi kecuali belajar. Konyol. Suka berbohong untuk menutupi kesalahan karena kecerobohan dan kebodohannya. Sedikit narsis. Mata duitan. Pada dasarnya orang baik, kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;[Bakat dan Kekurangan]:&lt;/span&gt; Berbakat di atletik dan musik (nyanyi dan gitar). Kekurangannya di mata pelajaran dengan banyak hafalan dan harus memutar otak berlebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TRIVIA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Memiliki gitar akustik Yamaha FG-400, peninggalan dari ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3808784878141510356-3404556807163974020?l=gullible-guitarist.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/feeds/3404556807163974020/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/biodata-karakter.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/3404556807163974020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3808784878141510356/posts/default/3404556807163974020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gullible-guitarist.blogspot.com/2009/09/biodata-karakter.html' title='Biodata Karakter'/><author><name>Jovalista</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17706209397119291030</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
